article
Sebaik-Baik Manusia

Memperoleh keberuntungan merupakan dambaan setiap orang, baik dalam bentuk harta kekayaan, keturunan dan gelar kesarjanaan yang berderet yang menggambarkan betapa mumpuni ilmu yang dikuasainya. Juga bisa berupa pangkat, jabatan dan kedudukan yang dengannya kita dapat melakukan banyak hal dengan mudah.

Namun dalam perjalannya, ketika kita menyandang pangkat, jabatan dan kekayaan melalui proses panjang yang penuh dengan kerja keras seringkali membuat kita lalai dan justru lebih banyak mengangungkan pencapainnya seakan-akan prestasi dan kekayaan yang diperolehnya murni atas jerihpaya seorang diri yang menyeret pada perasaan lebih baik dari yang lain.

Tanpa disadari, sikap tersebut telah masuk dalam perangkap setan. Menggoda manusia untuk mengagung-agungkan harta, karena dengan harta kita merasa mampu melakukan apa saja. Juga mengagung-agungkan jabatan, karena dengan jabatan kita juga dianggap punya kekuatan. Dan yang paling banyak terjadi mengagung-agungkan diri kita sendiri sehingga menumbuhkan benih kesombongan, merasa paling hebat, paling berjasa dan sebagainya.

Tanpa disadari bahwa yang paling beruntung dari semua itu adalah orang yang dikarunia aneka kelebihan oleh Allah SWT berupa kekayaan, pangkat dan jabatan namun mereka sanggup memanfaatkannya bagi sebanyak-banyaknya umat manusia. Derajat kemulian seseorang dari sejauhmana dirinya memiliki nilai manfaat bagi orang lain.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW.

“Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

Hadits ini seakan mengatakan bahwa jika ingin mengukur sejauh mana derajat kemulian akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri kita untuk mahluk disekitar kita. Bentuk kebermanfaatan dapat berupa materi meski tidak selalu harus dengan bobot yang besar. Memberi bantuan dalam bentuk fisik sehingga meringkan beban pekerjaan orang lain, kebijakan yang memberi kemudahan untuk masyarakat luas serta ilmu yang terus menerus diampaikan dalam rangka memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Pengalaman kebermanfaatan ini begitu dirasakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.

Tumbuhnya kesadaran umat dalam melakukan kebaikan dan kebermanfaatan melalui BMH, sehingga banyak program kebaikan yang sukses dilaksanakan dan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Adapun program yaitu kebaikan untuk yatim dan dhuafa, kebaikan untuk dai dan guru ngaji, kebaikan untuk masjid dan musollah, ifthor buka puasa dan berkah fitrah.

Kegiatan ini dapat telaksana dan menjangkau masyarakat luas karena adanya kesadaran dari donatur yang diberikan kelebihan harta oleh Allah SWT untuk sebuah perdagangan yang tidak ada kerugian sedikitpun bagi orang yang menempuh jalan tersebut.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur`ān), mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fatir (35): 29).